Beginilah cara menjadi orang kaya

Cara Menjadi Kaya Membangun Aset Bukan Liabilitas

Masih dengan Blog Dede yang berisikan tentang cerita dan harpan dalam menjalan roda usaha jasa konveksi baju. Beralamatkan di Ciputat, siapa saja yang ingin membuat kemeja seragam dan lain-lainya masih berhubungan dengan dunia pakaian, sekadar ngopi juga boleh loh. 

Mungkin Anda bosan dengan cuitan yang enggak jelas ini, harap maklum saja. Sebab, saya tak mempunyai bakat dalam menulis. Dan tentunya bicara mengenai bakat saya percaya tingkat kesukses bukan sepenuhnya ditunjang oleh bakat, tapi kerja keras. Jika dipresentasikan 99 % kerja keras dan bakat hanya 1%.

Perkara soal bakat enggak usah digubris, dianggap bencanda juga silakan saja. Tapi, kalau Anda percaya yak silakan saja. Percaya,  bakat akan berkembang jika ditunjang oleh semangat kerja keras untuk terus belajar. 

Baiklah, saya akan mencoba memfokuskan diri pada kelanjutan tentang rahasia menjadi kaya. Siapa juga yang tak tertarik untuk menjadi orang kaya, apalagi saat ini banyak orang curhat soal kehidupannya. Media sosial sebagai wadah curhat-curhat tentang nasib (entah benar atau hanya politik saja). 

Pada artikel sebelumnya, boleh dicek tentang rahasia menjadi orang kaya dijeaskan tentang mental. Orang akan menjadi kaya ketika mereka mempunyai mental kaya. Prinsip ini coba saya bangun dalam diri saya sendiri. 

Pada artikel sebelumnya,  Robert Kiyosaki memaparkan tentang tiga mental dalam mengalirkan uang. Mental orang miskin pendapatkan akan habis untuk memenuhi kebutuhan, mental orang menengah akan membelanja pendapatan mereka untuk kebutuhan dan juga gaya hidup, dan orang kaya pendapatan untuk menambah aset sehingga aset tersebut akan membawa mereka pada bebas finansial. 

Saya menggarisbawahi bahwa poin terdapat pada mental. Namun, penting juga memahami apa itu aset dan apa itu liabilitas.... Setidaknya ini yang akan saya coba pahami terlebih dahulu, sampai menyelediki  kemana pendapatan saya selama ini, bisa jadi saya termasuk dalam katagori orang bermentalkan miskin. hehehe

Bicara mengenai aset dan liabilitas, kadang samar-samar. liabilitas nampak seperti aset. 

Agar lebih mudah dipahami, Aset adalah sesuatu yang memberikan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah sesuatu yang mendatangkan pengeluaran. 

Orang yang menganggap liabilitas sebagai aset, mengakibatkan liabilitasnya semakin besar, sementara asetnya justru semakin kecil.  

Jadi apa yang saya miliki apakah itu aset atau liabilitas, pada dasarnya kita sendiri yang mentukan apakah yang dimiliki sebagai aset atau liabilitas.  Agar lebih mudah dipahami, mari kita sama-sama mengambil contoh, mungkin kita bisa sama-sama paham... Saya akan mencoba dari  mengambil contoh  sebagai berikut :


Agar lebih jelasnya, saya akan mengambil contoh jika saya mempunyai sepeda motor pribadi yang setiap hari hanya digunakan untuk pergi ke tempat usaha saya dengan biaya membutuhkan bahan bakar 25 ribu setiap harinya. 

Sedangkan jika naik gojek  membutuhkan Rp 15 ribu  untuk ongkos pulang-pergi setiap harinya. jadi dari segi ini saya dianggap lebih lebih hemat jika mengenakan jasa gojek. 

Dan cerita bakal berbeda jika saya menenakan sepeda motor untuk berkeliling dan bertemu teman-teman dengan tujuan selain untuk menjaga silahturami dan ada motif lainya, yakni sekaligus promosi tentang usaha jasa konveksi baju saya. 

Dalam melakukan aktivitas tersebut, saya akan membutuhkan dana kuang lebih 35 ribu untuk bahan bakar. 

Namun, jika saya jika saya  menggunakan transportasi umum dengan mempertimbangkan mobilitas kegiatannya yang berpindah 3 sampai 5 tempat yang beliau kunjungi setiap harinya, beliau membutuhkan Rp 50 ribu.

Dari ilustrasi tersebut, maka berdasarkan fungsi dan biayanya mobil yang digunakan Tuan A dianggap liabilitas sedangkan mobil yang digunakan Tuan B dianggap sebagai asset.

Jadi apakah sepeda motor  ada pada dianggap aset atau hanya liabilitas... 


Oke, saya sedikit mengerti sekarang. Baiklah saya akan mencoba mengukur apa saja yang saya miliki... lalu apakah itu akan menjadi aset atau liabilitas. Agar terlihat lebih mudah, saya akan memahami dari fungsi dan gengsi...

Enggak usah gengsi jika sepeda motor saya bukan yang motor sprot cukup motor metik yang penting sehat.... heheheh



Komentar