Beginilah cara menjadi orang kaya

Inilah Cara Menjadi Kaya dan Bebas Utang

blog dede, seorang teman mengunjungi tempat bisnis jasa konveksi baju. Sebagai tuan rumah yang baik, tanpa diminta langsung menyuguhkan segelas kopi hitam. Sambil sruput kopi, obrolan mengalir begitu saja. Obrolan seputar bisnis, obrolan utang, termasuk obrolan gaya hidup. 

Iya, teman saya bicara tentang posisinya di tempat bekerja dengan penghasilan dikatakan lebih dari cukup sehingga menjadikan dirinya bergaya hidup bisa dikatakan mewah. Dia mengaku melupakan segala hal termasuk lupa bahwa posisinya dengan mudah bergeser. 

Dan saat ini, ia merasakan saat dengan pemasukan jauh dari sebelumnya. Beban yang dipikul lantaran gaya hidup mewah. Sandainya saja, pendapatakan diraih bukan untuk gaya hidup, malainkan untuk bisnis atau aset, mungkin kejadian tak seperti ini. 

Hidup dengan beban cicilan yang tak kunjung selesai. Lagi-lagi kembali pada mental, bagaimana pendapatkan hanya lari ke kebutuhan dan sisa untuk liabilitas... pas banget pada artikel tentang rahasia menajadi kaya, bagaimana rahasia menjadi orang kaya 

Hal yang dilupakan banyakan orang termasuk teman dan saya sendiri, bahwa orang menjadi kaya adalah mereka yang membeli aset bukan liabilitas. Bagaimana hampir semua pemasukan di lari pada aset dan untuk mendapatkan pemasukan, bukan lari pada liabilitas pada akhir pendapatkan kita habis untuk memenuhi kebutuhan aset..Untuk lebih jelas tentang arus pemasukan bagaimana orang miskin dan orang kaya menggunakan pemasukan, bicara tentang aset dan liabilitas 

Dan dari obrolan tersebut, apa yang didapat sebagai pembelajaran saya, teman saya dan untuk semua orang. Apa yang menimpa teman saya bisa jadi menimpa bisnis jasa konveksi baju, bagaimana bisnis yang sedang saya kelola ini tiba-tiba sepi peminat dengan lilitan utang, tak ada orang yang mau order dan lain halnya. 

Menjadi penting bagaimana pemasukan dari bisnis jasa konveksi baju, mengelola uang menjadi aset dan hal produktif, utang dijadikan untuk modal produktif dan hal lainnya. 

Lebih lanjut, bagaimana merinci apa saja yang hikmah dari semua peristiwa dan jujur saja pandemi corana membawa pada kreativitas agar bisnis bisa tetap berjalan...

1. Terbuai dengan Rasa Aman 

Apa yang menimpa teman saya dan ternyata tanpa disadari telah menimpa saya, saya dalam menjalankan bisnis jasa konveksi kerap terbuai dengan orderan yang menumpuk. Orderan menumpuk membuat saya terbuai.  

Segala hal dirasa selalu ada jaminan membawa pada rasa nyaman. 

Yups, besok akan selalu ada orderan masuk.... Tenang saja, bisnis konveksi baju adalah salah satu bisnis yang tak akan pernah mati. Sebab, selama orang membutuhkan baju maka konveksi akan dibutuhkan. Sampai lupa, bahwa tak akan ada pernah tau untuk hari esok, satu minggu kemudian dan satu tahun kemudian.... 

TIBA- TIBA saya menyalahkan corona, begitu juga dengan teman-teman yang menjalankan bisnis jasa konveksi baju...

2/.  Takut Untuk Melangkah Lebih Jauh dalam Pengembangan Bisnis

Bisa jadi rasa nyaman yang pada akhrinya membunuh atau pada dasarnya rasa takut untuk melangkah lebih jauh dalam pengembang bisnis, rasa takut bakal kehilangan uang atau hal lainnya. Dari keduanya entalah mana yang lebih tepat. 

Padahal jika lebih cermat, saya sangat mungkin untuk mengembangkan bisnis konveksi baju. Yups, bisnis yang sedang saya geluti ini, pada dasarnya bisa saya kembangkan dengan cara menjual produksi. Jika selama ini saya hanya menawarkan jasa pembuatan baju kaos, kemeja, jaket, dan lainnya untuk kebutuhan seragam kerja, seragam acara, jualan produk, dan lain. 

Maka, saya pun bisa memuat produk, entah itu kaos, kemeja, baju wanita, dan lainnya untuk dijual. Media untuk menjualnya, seperti enggak kebingungan. Saya bisa menjual produk melalui market place seperti shopee, tokopedia, buka lapak, dan juga sosmed. 

Hal yang sangat sederhana dalam pengembangan bisnis bidang pembuatan baju. Bisnis saya tak hanya berkutat pada jasa pembuatan baju untuk orang lain, tapi juga produksi baju untuk saya jual sendiri. 

Nah, apakah saya merasa takut kehingan uang dengan asumsi jika barang saya tak laku, maka saya akan merasa rugi. 

4. Lebih Mengutama Kesanangan 

Jika merujuk pada kisah seorang teman, bisa diambil benang merah. Pada saat ia menduduki posisi strategis, uang diraih lebih mengarah pada gaya hidup. Dari membeli mobil BMW dan mercedes benz. Dari kedua mobil tersebut, siapa saja bisa menebak. 

Kini, kondisi membawa cerita lainya. Tak hanya terlilit hutang, kedua mobil tersebut lenyap untuk menutupi utang. 

Memang penyesalan selalu datang belakangan. Berandai-andai, seandainya waktu itu pendapatan yang lumayan dilihkan untuk membangun bisnis maka jawaban tak sepeti saat ini. Kondisi yang membuat eman saya ambruk....gaji bulanan hanya menutupi utang bulanan. 

Apa yang menimpa teman saya, menimpa juga pada diri saya meskipun bentuk kesenangan jauh berbeda. Saya bersyukurnya utang bulanan saya tak sedahsyat teman saya. 

Hehehe, jika sudah demikian lantas bagaimana membangun bebas finansial......

Dan untuk selanjutnya kira-kira apa lagi yak, segala hal yang membuat kita susah untuk bebas finansila dan bebas finansial.... 

Komentar